tentang hanung

Komentar ketua MUI Ahmad Khalil Ridwan:

“Setelah saya menyaksikan film TANDA TANYA, karya Hanung, produksi Mahaka Picture (Kelompok Republika), saya menyatakan; ‘Film itu menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama’,” demikian disampaikan KH A. Cholil Ridwan, Ketua MUI Bidang Budaya kepada redaksi hidayatullah.com, Kamis (07/3) malam. (nahimunkar.com, MUI: Film Karya Hanung Mendukung Orang Murtad. April 6, 2011 10:24 pm, http://www.nahimunkar.com/mui-film-k…tad/#more-4623)
Apa yang dikatakan Hanung “orang terdekat saya yang pindah agama” tentunya makna yang paling dapat dimengerti adalah orang Islam yang jadi murtad, keluar dari Islam. Itu yang malah Hanung puji dengan ungkapan Hanung: “Pada saat pindah agama, dia menjadi sangat halus budi pekertinya, tidak keras kepala.”

Betapa tingginya pujian Hanung terhadap teman terdekatnya yang murtad itu.Apakah itu bukan menyebar virus yang menggoyang iman?

Dalam perspektif keimanan, boleh jadi ada yang punya kesan bahwa Hanung Bramantyo tergolong sosok labil yang beruntung. Kesan seperti itu bisa mencuat setelah membaca transkrip wawancara antara Hanung dengan radio milik komunitas liberal yaitu KBR68H.

Wawancara secara live antara Hanung dengan KBR68H berlangsung pada hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010, dan turut disiarkan oleh 40 jaringan radio liberal yang ada di kawasan Nusantara ini. Transkrip wawancara tersebut kemudian dipublikasikan melalui situs JIL, beberapa hari setelah wawancara live berlangsung.

Hanung yang berasal dari keluarga Islam dan bersekolah mulai TK hingga SMA di lembaga pendidikan milik ormas Islam, bahkan sempat nyantri di salah satu ponpes yang dikelola ormas Islam, ternyata tidak luput dari pasang surut iman yang membawanya kepada dunia sekuler. Selama bertahun-tahun ia tidak shalat dan tak shaum di bulan Ramadhan, termasuk saat menggarap film Ayat-ayat Cinta: “…Pada saat proses pembuatan film Ayat-Ayat Cinta itu, saya tidak melakukan salat apa pun. Saya tidak salat. Itu pada saat bulan Ramadlan. Saya juga tidak puasa dan tidak berdoa. Saya mencoba untuk berkesenian total dan saya percaya dengan kemampuan otak saya…”

Jadi, ketika Hanung menggarap film Ayat-ayat Cinta yang katanya bernuansa ‘Islami’ itu, ia sama sekali tidak punya motif agamis, tapi murni demi duit, popularitas dan seni. Satu-satunya motif non pamrih dan non materi yang mendorong Hanung menggarap film itu adalah pesan ibunya, mualaf cina yang pernah berpesan: “…kamu kalau sudah bisa membuat film, tolong buat film untuk agama kamu…”

Dalam keadaan tidak shalat dan tidak shaum Ramadhan itulah, proses pembuatan film Ayat-ayat Cinta banyak mengalami kendala. Bahkan ketika film itu rampung dan siap diputar di berbagai bioskop, Hanung masih was-was.

Kalau saja boleh berandai-andai film Ayat-ayat Cinta gagal secara komersial, dan produsernya menanggung rugi, serta kredibilitas Hanung sebagai sutradara muda runtuh, boleh jadi Hanung akan semakin jauh dari agamanya, yang sudah ia tinggalkan sejak SMA, apalagi sejak ia menuntut ilmu di IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Tidak syak (diragukan) lagi, Allah Maha Mengetahui segala hal. Astaghfirullah, ternyata film Ayat-ayat Cinta laris manis. Bahkan berhasil mencatatkan jumlah penonton terbanyak, sebelum akhirnya dikalahkan oleh film Laskar Pelangi. Maka Hanung pun menuai rupiah yang tak terduga. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta menjadi titik balik Hanung di dalam mengakui Allah. Hanung pun umrah “…Ketika masuk ke gerbang Masjidil Haram melihat Ka’bah, oh ya Allah, merinding sekali. Saat melihat Ka’bah, lutut saya tidak bisa digerakkan. Saya langsung jatuh, bruk. Di situ itu saya baru bilang, Allahu Akbar…”

Boleh jadi bagi Hanung, film Ayat-ayat Cinta banyak memberi kejutan. Tidak hanya berupa materi dan popularitas, tetapi juga protes. Terutama dari kalangan aktivis perempuan yang anti poligami. Menurut mereka, film Ayat-ayat Cinta diangap berpihak kepada konsep poligami melalui adegan-adegan yang manusawi dan alasan-alasan yang tidak bisa ditolak. Sejumlah wanita yang semula menyikapi poligami begitu sinis dan emosional, setelah menyaksikan film Ayat-ayat Cinta sikap mereka jadi lebih proporsional dan manusiawi.

Kejutan lain yang dituai Hanung dari kesuksesan film Ayat-ayat Cinta adalah kehidupan cintanya mulai berbunga kembali. Hanung adalah duda satu anak yang sempat menyia-nyiakan istri dan anaknya saat ia masih berada di dunia ala jahiliyah, kemudian mendapat tambatan hati seorang perawan berjilbab gaul yang suka menghisap rokok, dan salah satu pendukung film Ayat-ayat Cinta juga. Kini mereka sudah menikah dan punya seorang anak.

Rupanya, Hanung adalah sosok yang terkesan konsisten membela kekafiran berfikir ala aktivis kesetaraan gender dan aktivis liberal. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta yang dianggap mengkampanyekan poligami, langsung dia balas sendiri dengan membuat film Perempuan Berkalung Sorban. Menurut Hanung, “…Film ini adalah hutang saya pada kaum perempuan yang sebelumnya kecewa dengan film AAC yang dianggap sangat berpihak pada poligami.” (http://www.nahimunkar.com/nomena-sin…k-citra-islam/)

Menurut Tabloid Suara Islam, film Perempuan Berkalung Sorban selain mengisahkan kebobrokan pesantren dan kiyainya, juga terkesan mendukung Komunisme. Misalnya, sebagaimana terlihat adanya pencitraan bahwa sejumlah santri menjadikan buku-buku sastrawan kiri sebagai bacaan wajib. Padahal itu tidak ada dalam novelnya (yang diangkat jadi film itu). Bagi Taufiq Ismail, sastrawan senior, melalui film Perempuan Berkalung Sorban ini, Hanung terkesan “…ingin menunjukkan dirinya kreatif, super-liberal, berfikiran luas, tapi dengan mendedahkan kekurangan-kekurangan dan cacat-cela ummat, yang dilakukannya dengan senang hati. Bahkan mengarang-ngarang hal yang tidak ada…”

Boleh jadi Hanung tidak peduli dengan kegusaran Taufiq Ismail. Bahkan tidak peduli dengan kegusaran kita. Terbukti, pada film Sang Pencerah (tentang KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah), Hanung menjadikan Lukman Sardi sebagai pemeran utama. Lukman Sardi sang murtadin (murtad dari Islam dan menjadi Kristen) ini merupakan salah satu putra dari pebiola Idris Sardi. (wawancara suaraislam.com dikutip nahimunkar.com, Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan. September 26, 2010 10:59 pm, http://www.nahimunkar.com/hanung-kau…%A6/#more-3394)

Sikap konsisten Hanung membela kekafiran berfikir ala aktivis kesetaraan gender dan aktivis liberal, nampaknya sudah terbentuk sejak ia remaja. Sejak remaja ia konsisten ingin menjadi ledhek. Khususnya dunia teater. Minat besar Hanung ternyata tidak mendapat dukungan kondusif dari lingkungan sekolahnya, sehingga ia putus asa, kemudian menolak Islam, sekaligus tidak suka dengan Muhammadiyah. Bahkan “murtad”. Sebuah gambaran jiwa yang labil.

Meski labil, Hanung masih beruntung, karena pengakuannya terhadap Allah masih bersemi manakala film garapanya Ayat-ayat Cinta laris manis di pasaran. Barangkali begitulah cara Yang Maha Kuasa memasukkan hidayah kepada hamba-Nya yang materialistis. Harus dengan duit dan popularitas.

Meski kasih sayang Allah sudah terbukti tercurah kepada Hanung, ia tetap saja betah dengan kekafiran berfikirnya. Sebagaimana terlihat melalui film terbarunya yang diberi judul “?” (tanda tanya). Menurut KH A. Cholil Ridwan (Ketua MUI Bidang Budaya), film garapan Hanung tersebut menyebarkan paham syirik modern (Pluralisme Agama), mendukung orang murtad dari Islam, menyatakan semua agama menuju Tuhan yang sama, mencampuradukkan antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, dan berlebih-lebihan dalam menggambarkan konflik antar agama.

Sedangkan menurut Adian Husaini, film “?” sangat merusak, berlebihan, dan melampaui batas. Adian yang sudah menyaksikan langsung film tersebut, berkesimpulan, Hanung ingin menggambarkan kerukunan, tapi justru memberi stereotype yang buruk tentang Islam. Selain itu, menurut Adian, Hanung terkesan meremehkan proses murtad. “Dalam pandangan Islam, orang murtad itu serius, tidak bisa main-main. Tapi dalam film ini, pilihan murtad seolah bukan hal yang serius, yang biasa saja jika orang yang keluar dari agama Islam.”

Begitulah bila sosok yang masih labil diserahi menggarap film bertema serius, maka yang akan dihasilkan adalah kesan mempermainkan agama. Apalagi bila sosok labil itu punya bakat sombong, maka ia akan semakin terjerumus ke dalam kekafiran berfikir, bahkan mengajak orang lain untuk juga terjerumus ke dalam kekafiran berfikir yang sama. Sebab, orang yang sombong cenderung menolak masukan dari orang lain, sehingga ia tidak menyadari kesombongannya, serta tidak menyadari kekafiran berikirnya. (haji/tede)

sumbernya : http://www.eramuslim.com/berita/analisa/bukti-hanung-berjiwa-labil-dan-sebarkan-virus-menggoyang-iman.htm

About raadit

baik hati ....
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s